Jumat, 29 April 2016
Kisah Inspiratif
Selasa, 26 April 2016
Amazing Parenting, lets Enjoy Amazing Communication! (part 1)
(Sumber : buku Amazing Parenting, Rani Razak Noe’man)
Pada dasarnya, mengasuh anak adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dan membahagiakan. Berharap semuanya bisa berjalan mulus sehingga anak tumbuh menjadi anak yang “ideal” atau tepatnya sesuai keinginan kita. Tapi terkadang kenyataan tak semulus harapan. Sering kita temui berbagai kendala yang tidak jarang membuat Ayah dan Bunda mengeluh.
Contoh keluhan Ayah Bunda berikut ini :
“Kenapa ya, anak saya maunya main game melulu?”
“Saya harus marah – marah terus sama anak – anak, soalnya kalau dibilang baik – baik mereka tidak mau mendengar saya!”
Keluhan diatas sering dirasakan oleh Ayah dan Bunda?
Jika diamati maka timbul kesan bahwa menjadi orang tua identik dengan rasa pusing dan stres. Padahal, bukankah Al-Quran menyebutkan anak – anak adalah qurrota a’yun, “perhiasan bagi mata?”
Namun, mengapa kita sering tidak menikmati peran menjadi orang tua?
A. Kedala Komunikasi Orang Tua
Bisakah Ayah dan Bunda mencapai kondisi bahwa menjadi orangtua itu amazing? Bisakah Ayah Bunda menikmati rasa menakjubkan dan menyenangkan saat mengasuh anak? Tanpa perlu merasa kesal dan sakit kepala?
Ada satu cerita pengalaman Saya seperti ini :
“Bund,aku ingin pulang sekolah naik angkot, gak mau dijemput lagi”.
Karena berbagai masalah sejak Ia kecil, Saya bersikap agak protektif dan ada rasa khawatir jika membiarkannya naik angkot sendiri. Namun Saya berusaha meneguhkan hati dan mengijinkannya naik angkot sendiri.
Tiga hari berjalan aman dan lancar, Dia pulang tepat waktu dan rasa khawatir mulai berkurang. Namun dihari keempat Dia pulang terlambat dan Saya mulai panik, karena Dia belum Saya ijinkan bawa ponsel Saya telpon teman – temannya dan sekolah. Karena tak ada kabar Saya pun menyusul ke Sekolah. Sampai disana sekolah sudah kosong.
Dengan hati galau Saya menyusuri jalan siapa tahu Dia ada di pinggir jalan. Namun semuanya nihil dan Saya menangis tidak tahu harus berbuat apa.
Tiba – tiba terdengar langkah kaki di depan pintu. Saya segera berlari dan mendekat padanya.
Jika dalam posisi ini, apa yang Ayah dan Bunda ucapkan?
(a) (Dengan nada tinggi) “Ya ampun! Kamu kemana aja sih? Kalau mau pulang telat, bilang – bilang dong! Huuuhh...tau nggak, Bunda tuh tadi sampai nyusul ke sekolah, bukain pintu satu – satu, ngikutin jalan angkot sampai terminal! Bunda tuh kuatir tau....kuatirr!! kalau kamu diculik gimana?? Udah, pokoknya besok kamu gak boleh naik angkot lagi!”
(b) (Dengan nada rendah) “Alhamdulillah...akhirnya kamu pulang, nak. Kamu baik – baik aja kan? Kenapa pulang terlambat? Bunda khawatir sekali. Gimana kalaukamu di culik atau ketabrak mobil? Tadi Bunda mencarimu kemana mana. Lainkali kalau mau pulang terlambat beri tahu Bunda yaa”.
Perkataan (a) dan (b) intinya sama, Ayah dan Bunda mengungkapkan kekhawatiran atas keselamatan anak. Rasa sayang Ayah dan Bunda telah membuat sangat panik ketika anak terlambat pulang. Namun rasa sayang pada kalimat (a), rasa sayang itu tidak akan ditangkap anak, yang ditangkap hanya “Bunda Marah”. Sebaliknya dengan kalimat (b), anak bisa menangkap rasa sayang dan menyadari bahwa saking sayangnya, Ayah dan Bunda khawatir bila pulang terlambat tanpa memberi kabar.
Betapa banyak dari Ayah dan Bunda yang mengomel, marah, atau mengkritik perilaku anak karena rasa sayang. Namun, apakah rasa sayang itu ditangkap anak ataukah justru sebaliknya? Yang ditangkap adalah “Ayah dan Bundaku pemarah, cerewet, tukang kritik!” aku nggak pernah bener dimata mereka”.
Ayah dan Bunda mungkin mengomel tiap hari hanya untuk menyuruh anak bangun tepat waktu agar anak tidak terlambat sekolah. Namun, mengapa anak tidak sadar – sadar juga? Setiap musim ulangan Ayah dan Bunda marah – marah saat menyuruh anak rajin belajar. Sebenarnya tujuannya baik, supaya mendapat nilai ulangan yang bagus. Namun mengapa anak tidak berubah? Mereka lebih suka menonton TV dibandingkan baca buku.
Inilah yang Saya maksud dengan kendala komunikasi. Kita berkomunikasi untuk menyampaikan isi hati kita. Dengan tujuan, agar orang yang diajak berkomunikasi memahami maksud kita dan melakukan apa yang kita inginkan. Apabila ternyata apa yang kita sampaikan tidak ditangkap dengan baik oleh pihak lain, berarti ada kesalahan dalam berkomunikasi.
B.Gaya Komunikasi Tradisional
Doktor Thomas Gordon, penulis buku Parents Effectiveness Training, mengelompokan gaya komunikasi yang biasa dilakukan oleh orang tua diseluruh dunia, termasuk di Indonesia. Gaya komunikasi itu adalah memerintah, menakuti, mengancam, menceramahi, menyuruh, berargumentasi, menghakimi, mengalah pada kemampuan anak, memberi cap, menganalisis, memberikan jaminan, menginterogasi, mengalihkan, membandingkan, menyindir, dan membohongi.
Gaya komunikasi inilah yang Saya maksud dengan komunikasi tradisional. Dulu, Orangtua Ayah Bunda juga mungkin menggunakan gaya ini. Karena terbentuk sejak kecil, Ayah Bunda pun terbiasa untuk menggunakan gaya komunikasi tradisional tersebut.
Gaya komunikasi yang digunakan orangtua akan membentuk gaya pengasuhan orangtua dalam mendidik anaknya. Umumnya, ada dua jenis gaya ppengasuhan yang biasa dipakai orangtua. Ada orangtua terlalu ketat, terlalu disiplin, dan memperlakukan anak sebagai pihak yang harus patuh sepenuhnya. Gaya pengasuhan ini disebut gaya pengasuhan otoriter. Sebaliknya, ada orangtua yang membebaskan anaknya untuk melakukan apa saja sehingga, justru, orang lain yang pusing menghadapi perilaku buruk anaknya. Gaya pengasuhan ini disebut gaya pengasuhan permisif.
Jenis Gaya Pengasuhan Komunikasi Tradisional yang Sering di Lakukan :
1. Otoriter
Memerintah, mengancam atau menakut – nakuti, menceramahi, menginterogasi, memberi cap,
Membandingkan, menghakimi, menyalahkan dan mendiagnosis.
2. Permisif
Menjamin, memberi solusi, mengalihkan, menyindir, menghibur, dan membohongi.
Ayah dan Bunda seberapa sering menggunakan kalimat – kalimat ini?
“kakak, beresin tuh buku – bukunya! Contoh tuh, adikmu rapi sekali”.
“Andii...! Cepetan mand! Dari tadi bunda suruh, nggak nurut aja! Kamu punya telinga nggak sih?”
“Aisyaah! Banguuunn....bangun! Huh, dari tadi Bunda bangunin kok nggak bangun – bangun?! Awas yaa kalau telat lagi, ntar dimarahi Bu Guru loh!
Model komunikasi diatas, tampaknya harus segera Ayah Bunda tinggalkan. Alasannya, pesan yang ingin disampaikan lewat model ini tidak ampuh dalam mengubah perilaku anak. Betapa seringnya Ayah dan Bunda marah, menceramahi, mengomel, tetapi perilaku buruk anak tidak berubah juga? Jika hal ini terjadi, berarti anak telah menerima pesan tersebut dengan maksud yang berbeda. Komunikasi yang dibangun pun menjadi sia – sia belaka jika pesannya tidak sampai.










