Jumat, 29 April 2016

Kisah Inspiratif

sumber :google

Siapa yang tidak ingin menjadi Ibu seperti Septi Peni Wulandani?

Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih sangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kita search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia.

Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.

Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut.

Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran. Akhirnya beliau pun menikah.

Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja.

Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah……Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul khatimah. Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren? Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga.

Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitu pun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik, lalu biarkan anak yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan?

Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?

Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget.
Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya.

Ara, anak kedua. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain? Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.

Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah. Keren!! Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20. Banyak juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?” hehe.

Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:
1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokratis kepada mereka adalah suatu  keniscayaan.
2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktik nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.
3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “Kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.
4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.
5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!
6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai.
7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya.
8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara homeschooling di mana ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.
9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe… Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta
10. Punya kurikulum yang keren, di mana pondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.
11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama. Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya. Daaaan masih banyak lagi.

Hhhhmmm… Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa.
Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya. Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia: housewife.

So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh please, housewife is the most presticious career for a woman, right? Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi. Jadi apapun kita, semoga tetap menjadi pendidik hebat untuk anak-anak generasi bangsa.
Dari kisah di atas, saya juga menarik kesimpulan bahwa seminar kepemudaan tidak melulu bahas tentang organisasi, isu-isu negara, dan lain-lain yang biasa dibahas. Pemuda juga perlu belajar ilmu parenting untuk bekal dalam mendidik generasi penerus bangsa ini. Bukankah dari keluarga karakter anak itu terbentuk?

Sumber [disingkat oleh WhatsApp]

Selasa, 26 April 2016

Amazing Parenting, lets Enjoy Amazing Communication! (part 1)

(Sumber : buku Amazing Parenting, Rani Razak Noe’man)

Pada dasarnya, mengasuh anak adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dan membahagiakan. Berharap semuanya bisa berjalan mulus sehingga anak tumbuh menjadi anak yang “ideal” atau tepatnya sesuai keinginan kita. Tapi terkadang kenyataan tak semulus harapan. Sering kita temui berbagai kendala yang tidak jarang membuat Ayah dan Bunda mengeluh.
Contoh keluhan Ayah Bunda berikut ini :

“Kenapa ya, anak saya maunya main game melulu?”

“Saya harus marah – marah terus sama anak – anak, soalnya kalau dibilang baik – baik mereka tidak mau mendengar saya!”

Keluhan diatas sering dirasakan oleh Ayah dan Bunda?
Jika diamati maka timbul kesan bahwa menjadi orang tua identik dengan rasa pusing dan stres. Padahal, bukankah Al-Quran menyebutkan anak – anak adalah qurrota a’yun, “perhiasan bagi mata?”
Namun, mengapa kita sering tidak menikmati peran menjadi orang tua?

A. Kedala Komunikasi Orang Tua

Bisakah Ayah dan Bunda mencapai kondisi bahwa menjadi orangtua itu amazing? Bisakah Ayah Bunda menikmati rasa menakjubkan dan menyenangkan saat mengasuh anak? Tanpa perlu merasa kesal dan sakit kepala?

Ada satu cerita pengalaman Saya seperti ini :
“Bund,aku ingin pulang sekolah naik angkot, gak mau dijemput lagi”.

Karena berbagai masalah sejak Ia kecil, Saya bersikap agak protektif dan ada rasa khawatir jika membiarkannya naik angkot sendiri. Namun Saya berusaha meneguhkan hati dan mengijinkannya naik angkot sendiri.
Tiga hari berjalan aman dan lancar, Dia pulang tepat waktu dan rasa khawatir mulai berkurang. Namun dihari keempat Dia pulang terlambat dan Saya mulai panik, karena Dia belum Saya ijinkan bawa ponsel Saya telpon teman – temannya dan sekolah. Karena tak ada kabar Saya pun menyusul ke Sekolah. Sampai disana sekolah sudah kosong.
Dengan hati galau Saya menyusuri jalan siapa tahu Dia ada di pinggir jalan. Namun semuanya nihil dan Saya menangis tidak tahu harus berbuat apa.
Tiba – tiba terdengar langkah kaki di depan pintu. Saya segera berlari dan mendekat padanya.

Jika dalam posisi ini, apa yang Ayah dan Bunda ucapkan?

(a) (Dengan nada tinggi) “Ya ampun! Kamu kemana aja sih? Kalau mau pulang telat, bilang – bilang dong! Huuuhh...tau nggak, Bunda tuh tadi sampai nyusul ke sekolah, bukain pintu satu – satu, ngikutin jalan angkot sampai terminal! Bunda tuh kuatir tau....kuatirr!! kalau kamu diculik gimana?? Udah, pokoknya besok kamu gak boleh naik angkot lagi!”

(b) (Dengan nada rendah) “Alhamdulillah...akhirnya kamu pulang, nak. Kamu baik – baik aja kan? Kenapa pulang terlambat? Bunda khawatir sekali. Gimana kalaukamu di culik atau ketabrak mobil? Tadi Bunda mencarimu kemana mana. Lainkali kalau mau pulang terlambat beri tahu Bunda yaa”.

Perkataan (a) dan (b) intinya sama, Ayah dan Bunda mengungkapkan kekhawatiran atas keselamatan anak. Rasa sayang Ayah dan Bunda telah membuat sangat panik ketika anak terlambat pulang. Namun rasa sayang pada kalimat (a), rasa sayang itu tidak akan ditangkap anak, yang ditangkap hanya “Bunda Marah”. Sebaliknya dengan kalimat (b), anak bisa menangkap rasa sayang dan menyadari bahwa saking sayangnya, Ayah dan Bunda khawatir bila pulang terlambat tanpa memberi kabar.

Betapa banyak dari Ayah dan Bunda yang mengomel, marah, atau mengkritik perilaku anak karena rasa sayang. Namun, apakah rasa sayang itu ditangkap anak ataukah justru sebaliknya? Yang ditangkap adalah “Ayah dan Bundaku pemarah, cerewet, tukang kritik!” aku nggak pernah bener dimata mereka”.

Ayah dan Bunda mungkin mengomel tiap hari hanya untuk menyuruh anak bangun tepat waktu agar anak tidak terlambat sekolah. Namun, mengapa anak tidak sadar – sadar juga? Setiap musim ulangan Ayah dan Bunda marah – marah saat menyuruh anak rajin belajar. Sebenarnya tujuannya baik, supaya mendapat nilai ulangan yang bagus. Namun mengapa anak tidak berubah? Mereka lebih suka menonton TV dibandingkan baca buku.

Inilah yang Saya maksud dengan kendala komunikasi. Kita berkomunikasi untuk menyampaikan isi hati kita. Dengan tujuan, agar orang yang diajak berkomunikasi memahami maksud kita dan melakukan apa yang kita inginkan. Apabila ternyata apa yang kita sampaikan tidak ditangkap dengan baik oleh pihak lain, berarti ada kesalahan dalam berkomunikasi.

B.Gaya Komunikasi Tradisional

Doktor Thomas Gordon, penulis buku Parents Effectiveness Training, mengelompokan gaya komunikasi yang biasa dilakukan oleh orang tua diseluruh dunia, termasuk di Indonesia. Gaya komunikasi itu adalah memerintah, menakuti, mengancam, menceramahi, menyuruh, berargumentasi, menghakimi, mengalah pada kemampuan anak, memberi cap, menganalisis, memberikan jaminan, menginterogasi, mengalihkan, membandingkan, menyindir, dan membohongi.
Gaya komunikasi inilah yang Saya maksud dengan komunikasi tradisional. Dulu, Orangtua Ayah Bunda juga mungkin menggunakan gaya ini. Karena terbentuk sejak kecil, Ayah Bunda pun terbiasa untuk menggunakan gaya komunikasi tradisional tersebut.
Gaya komunikasi yang digunakan orangtua akan membentuk gaya pengasuhan orangtua dalam mendidik anaknya. Umumnya, ada dua jenis gaya ppengasuhan yang biasa dipakai orangtua. Ada orangtua terlalu ketat, terlalu disiplin, dan memperlakukan anak sebagai pihak yang harus patuh sepenuhnya. Gaya pengasuhan ini disebut gaya pengasuhan otoriter. Sebaliknya, ada orangtua yang membebaskan anaknya untuk melakukan apa saja sehingga, justru, orang lain yang pusing menghadapi perilaku buruk anaknya. Gaya pengasuhan ini disebut gaya pengasuhan permisif.

Jenis Gaya Pengasuhan  Komunikasi Tradisional yang Sering di Lakukan :
1.  Otoriter
      Memerintah, mengancam atau menakut – nakuti, menceramahi, menginterogasi, memberi cap,
      Membandingkan, menghakimi, menyalahkan dan mendiagnosis.

2.  Permisif
      Menjamin, memberi solusi, mengalihkan, menyindir, menghibur, dan membohongi.

Ayah dan Bunda seberapa sering menggunakan kalimat – kalimat ini?

“kakak, beresin tuh buku – bukunya! Contoh tuh, adikmu rapi sekali”.

“Andii...! Cepetan mand! Dari tadi bunda suruh, nggak nurut aja! Kamu punya telinga nggak sih?”

“Aisyaah! Banguuunn....bangun! Huh, dari tadi Bunda bangunin kok nggak bangun – bangun?! Awas yaa kalau telat lagi, ntar dimarahi Bu Guru loh!

Model komunikasi diatas, tampaknya harus segera Ayah Bunda tinggalkan. Alasannya, pesan yang ingin disampaikan lewat model ini tidak ampuh dalam mengubah perilaku anak. Betapa seringnya Ayah dan Bunda marah, menceramahi, mengomel, tetapi perilaku buruk anak tidak berubah juga? Jika hal ini terjadi, berarti anak telah menerima pesan tersebut dengan maksud yang berbeda. Komunikasi yang dibangun pun menjadi sia – sia belaka jika pesannya tidak sampai.

Senin, 25 April 2016

Kenapa Harus Daycare?




Banyak orang tua masa kini yang aktif bekerja sehingga mereka memerlukan jasa pengasuh untuk mendampingi putra – putrinya, dan tak sedikit yang kesulitan mencari pengasuh saat ini. Untuk mencari pengasuh yang terpercaya dan aman bagi putra – putrinya. 


 Sumber : Google


Dilema?

Pastinya, banyak yang curhat tentang ini dan tak sedikit juga yang menitipkan kepada orang tua.
Tapi apakah akan seterusnya merepotkan orang tua?

Atau mencari di jasa baby sitter, tapi untuk saat ini baby sitter perlu biaya yang tak cukup sedikit.
Untuk orang tua muda masa kini, daycare merupakan solusi untuk masalah diatas. 
Karena daycare pilihan yang aman dan terpercaya untuk putra – putri Anda. 

Daycare tidak hanya tempat penitipan, tapi tempat untuk tumbuh kembang anak sama seperti rumah.
Di samping itu daycare juga memiliki tenaga pengasuh dan pengajar yang profesional. 
Daycare juga mengajarkan anak untuk bersosialisasi dan saling mengenal antar teman.

Pastinyaa biaya pun sangat terjangkau Ayah Bunda.
Putra – putri selain dititipkan tapi juga mendapatkan pendidikan sesuai usianya, mengenal lebih banyak hal, punya teman dan bermain dengan banyak teman.

Kegiatan Belajar dan Bermain



Kegiatan Belajar Hompeempa setiap harinya penuh kreativitas, dari mulai mengenal warna, angka, huruf melalui flashcard, bercerita dari buku – buku cerita anak, serta kegiatan yang memerlukan gerak tubuh. Belajar indoor dan outdoor sering Kami lakukan agar murid – murid tidak mudah bosan.
Karena Hompeempa tidak hanya penitipan anak saja, tapi juga memberikan edukasi kepada murid – murid untuk menstimulus perkembangan sesuai usianya. Bimbingan para pengajar kepada setiap murid yang penuh perhatian serta kasih sayang sehingga para murid merasa nyaman dan gak mudah bosan jika sedang belajar.









Minggu, 24 April 2016

Tentang Hompeempa

Hompeempa Daycare merupakan salah satu daycare yang berlokasi di bogor tepatnya di Kebun Raya Residence blok V.2. Hompeempa Daycare solusi bagi Ayah dan Bunda yang bekerja dan memerlukan pengasuh sekaligus pendidikan karakter bagi putra putrinya. Hompeempa hadir untuk membantu, merawat dan mendidik putra putri usia pra sekolah selayaknya di rumah sendiri dengan suasana yang aman dan nyaman.
Hompeempa juga menerapkan program pendidikan dan pengasuhan yang disesuaikan dengan usia tumbuh kembang anak. program belajar kami sedikitnya mengambil metode sentra dan montessori.
Sesuai dengan komitmen Kami, Play, Learn and Fun, Kami berharap putra putri asuhan Kami dapat belajar dan bermain dalam suasana yang ceria. Sehingga selalu bertumbuh dan berkembang sesuai dengan harapan Ayah Bunda.

Tampak depan

Hompeempa Daycare juga memiliki fasilitas lingkungan yang sehat, bersih, aman, dan nyaman layaknya seperti dirumah. Ruang istirahat yang full AC, ruang belajar dan taman baca, ruang bermain yang luas, makanan yang sehat dan attractive untuk anak, serta lemari pendingin untuk penyimpanan ASIP/MPASI.

 Ruang Bermain

Kegiatan Hompeempa Daycare dari Senin – Jum’at, dimulai pukul 08.00 – 17.00 WIB. Di dampingi oleh tenaga pengajar yang profesional serta program belajar yang sesuai dengan usia anak.
Kegiatan yang penuh edukasi baik dari buku – buku dan mainan yang tersedia di Hompeempa Daycare. Semua mengasah motorik anak dalam tumbuh kembangnya. Selain itu murid – murid diberikan makanan yang sehat dan higienis tanpa bahan pengawet dan buatan rumah.


Kegiatan
08.00 – 08.30      Sambut Anak
08.30 – 09.00      Body Movement – Senam / Yoga
09.00 – 10.00      Snack Time
10.00 – 12.00      Nap / Free Time
12.00 – 13.00      Lunch
13.00 – 13.30      Sholat Dzuhur Berjamaah
13.30 – 14.45      Nap / Free Time
14.45 – 15.30      Take a Bath
15.30 – 16.30      Snack Time
 


 Ruang Belajar